KAUM SABA DAN BANJIR ARIM

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri (kepada mereka dikatakan): " Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dri pohon Sidr ( QS Saba' 15-16).
Kaum Saba adalah satu diantara empat peradaban besar yang hidup Arabia Selatan. Kaum ini diperkirakan hidup sekitar sekitar 1000-750 SM dan hancur sekitar 550 M setelah melalui penyerangan selama dua abad dari Persia dan Arab.
Masa keberadaan dari peradaban Saba menjadi pokok pembiacaran dari banyak diskusi. Kaum Saba mulai mencatat kegiatan pemerintahannya sekitar 600 SM, Inilah sebabnya tidak terdapat catatan tentang mereka sebelum tahun tersebut.
Sumber tertua yang menyebutkan tentang kaum Saba adalah catatan tahunan keajadian perang yang ditinggalkan dari masa raja Asyiria Sargon II (722-705 SM). Sargon mencatat orang-orang yang membayar pajak kepadanya, ia juga menyebutkan bahwa raja Saba yaitu Yith'i-amara (It'amara). Catatan ini merupakan catatan tertulis tertua yang memberikan informasi tentang peradaban Saba. Namun belumlah tepat untuk menarik kesimpulan bahwa kebudayaan Saba dirintissekitar 700 SM hanya dengan mendasarkan pada data ini saja, sangatlah mungkin bahwa kaum Saba telah hidup dalam jangka waktu yang sangat panjang sebelum dicatat dalam catatan tertulis. Hal ini berarti bahwa sejarah Saba mungkin lebih tua dari yang disebutkan diatas. Dalam prasasti Arad-Nannar, seorang raja terakhir dari negara Ur, digunakan kata "Sabum" yang diperkirakan berarti " negeri Saba".1 Jika kata ini berarti Saba, maka hal ini menunjukan bahwa sejarah Saba mundur ke belakang pada tahun 2500 SM.
Sumber-sumber sejarah yang menceritakan tentang Saba biasanya mengatakan bahwa Saba memiliki sebuah kebudayaan seperti Phoenician, khususnya terlibat dalam kegiatan perdagangan. Menurut sumber ini, kaum Saba memiliki dan mengatur sejumlah jalur perdagangan yang melintasi Arabia selatan. Biasanya orang-orang Saba menjual daganganya ke Mediterania dan Gaza demikian juga melintasi Arabi Selatan, di mana mereka telah menapatakan izin dari raja Sargon II penguasa dari seluruh wilayah atau dengan membayar sejumlah tertentu pajak kepadanya. Ketika kaum Saba mulai membayar pajak kepada kerajaan Assyiria, maka nama mereka mulai tercatat dalam sejarah negeri ini.
Kaum Saba telah dikenal sebagai orang-orang yang beradab dalam sejarah. Dalam prasasti para penguasa Saba, terdapat kata-kata seperti ; "mengembalikan", "mempersembahkan', dan "membangun"seringkali digunakan. Bendungan Ma'rib yang merupakan salah satu monumen terpenting dari kaum ini, adalah merupakan indikasi penting yang menunjukkan tingkatan teknologi yang telah diraih oleh kaum Saba. Namun hal ini tidak berarti bahwa angkatan bersenjata Saba adalah lemah. Bala tentara Saba adalah salah satu faktor terpenting yang memberikan sumbangan terhadap kelangsungan dan ketahanan kebudayaan mereka dalam jangka waktu yang lama tanpa keruntuhan.
Negara Saba memiliki tentara yang paling kuat di kawasan tersebut. Negara mampu melakukan politik ekspansi (meluaskan wilayah) berkat angkatan bersenjatanya. Negra Saba telah menaklukkan wilayah-wilayah dari negara Qataban Lama yang memiliki tanah yang luas di benua Afrika. Selama abad 24 SM dalam ekspedisi ke Magrib, angkatan bersenjata Saba mengalahkan dengan telak angkaan bersenjata Marcus Aelius Gallus, seorang Gubernur di Mesir dari Kekaisaran Romawi yang sesungguhnya merupakan negara yang terkuat pada saat itu. Saba dapatlah digambarkan sebagai sebuah negara yang menerapkan kebijakan yang moderat, namun mereka tidak akan ragu-ragu untuk menggunakan kekuatan bersenjata jika memang diperlukan. Dengan keunggulan kebudayaan dan militer, negara Saba merupakan salah satu "super power" di daerah tersebut kala itu.
Kekuatan angkatan bersenjata Saba yang sangat hebat juga disebutkan di dalam Al Qur'an. Sebuah ungkapan dari komandan tentara Saba yang diceritakan dalam Al Qur'an menunjukkan rasa prcaya diri yang sangat besar yang dimiliki oleh tentara Saba. Sang Komandan berkata kepada sang ratu penguasa Saba ; "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuaan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat ( dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan". ( QS an Naml 33).

Inscriptions written in the language of the people of Saba.
Ibukota dari Saba dalah Ma'rib yang sangat makmur, berkat letak geografisnya yang sangat menguntungkan. Ibukota ini sangat dekat dengan Sungai Adhanah. Titik dimana sungai bertemu Jabal Balaq sangatlah tepat untuk membangun sebuah bendungan. Dengan memanfaatkan keadaan alam ini, kaum Saba membangun sebuah bendungan di tempat dimana peradaban mereka pertama kali berdiri, dan sistem pengairan merekapun dimulai. Mereka benar-benarr mencapai tingkat kemakmuran yang sangat tingi. Ibukotanya yaitu Ma'rib, adalah salah satu kota termodern saat itu. Penulis Yunani bernama Pliny yang telah mengunjungi daerah ini dan sangat memujinya, menyebutkan betapa menghijaunya kawasan ini.2
Ketinggian dari bendungan di Ma'rib mencapai 16 meter, lebar 60 meter dengan panjang 620 meter. Berdasarkan perhitungan, total wilayah yang dapat diari oleh bendungan ini adalah 9.600 hektar, dengan 5.300 hektar termasuk dataran bagian selatan bendungan dan sisanya termasuk dataran sebelah barat seluas 4.300 hektar (pen). Dua dataran ini dihubungkan sebagai " Ma'rib dan dua dataran tanah " dalam prasasti Saba.3 Ungkapan dalam Al Qur'an yang menyebutkan " dua buah kebun disisi kiri dan kanan "menunjukkan akan kebun yang mengesankan dan kebun angur di kedua lembah ini. Berkat bendungan ini dan system pengairan tersebut maka daerah ini sangnat terkenal memiliki pengairan yang terbaik dan kawasan paling subur di Yaman. J. Holevy dari Perancis dan Glaser dari Austria membuktikan berdasarkan dokumen tertulis bahwa bendungan Ma'rib telah ada sejak jaman kuno. Dalam dokumen tertulis dalam dialek Himer dihubungkan bahwa bendungan ini yang menyebabkan kawasan ini sangat produktif.
Bendungan ini diperbaiki secara besar-besaran selama abad 5 dan 6 M. Namun demikian, perbaikan yang dilakukan ini ternyata tidak mampu memcegah keruntuhan bendungan ini tahun 542 AD. Runtuhnya bendungan tersebut mengakibatkan "banjir besar Arim" yang disebutkan dalam Al Qur'an serta mengakibatkan kerusakan yang sangat hebat. Kebun-kebun anggur, kebun dan ladang-ladang pertanian dari kaum Saba yang telah mereka panen selama ratusan tahun benar-benar dihancurkan secara menyeluruh. Dan kaum Sab apun segera mengalami masa resesi yang terjadi setelah hancurnya bendungan tersebut. Negeri Saba berakhir dalam waktu tersebut yang dimulai dengan hancurnya bendungan
Banjir Arim yang Dikirimkan Untuk Negeri Saba
Ketika kita mempelajari Al Qur'an serta membandingkannya dengan catatan sejarah tersebut diatas, maka kita akan melhat kesamaan yang sangat mendasar dalam hal ini. Temuan arkeologis dan juga catatan sejarah membenarkan apa yang dicatat dalam Al Qur'an. Sebagaimana disebutkan alam ayat berikut, kaum ini yang tidak mendengarkan peringatan dari Nabi mereka dan yang menolak atas kepercayaan tersebut, akhirnya mereka dihukum dengan banjir bah yang mengerikan. Banjir ini disebutkan dalam Al Qur'an dalam ayat-ayat sebagai berikut :
Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri (kepada mereka dikatakan): " Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. ( QS Saba' 15-17).
Sebagaimana ditekankan dalam ayat-ayat diatas, kaum Saba yang hidup di suatu daerah yang ditandai dengan keindahan yang luar biasa, kebun-kebun anggur yang subur. Terletak di jalur perdagangan, negeri Saba memiliki standar kehidupan yang tinggi dan menjadi salah satu kota yang terkenal di masa itu
Disebuah negeri dengan standar kehidupan dan keadaan yang sangatlah bagus, apa yang sehausnya dilakukan oleh Kaum saba adalah untuk "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya" sebagaiman disebutkan dalam ayat diatas. Namun mereka tidak melakukannya. Mereka memilih untuk mengakui kemakmuran negeri yang mereka miliki aalah kepunyaan mereka sendiri, mereka merasa bahwa merekalah yang membuat semua keadaan yang luar biasa tersebut. Mereka memilh untuk menjadi sombong daripada bersyukur dan menurut ungkapan dalam ayat tersebut dikatakan, mereka "berpaling dai Allah"…
Karena mereka mengaku bahwa semua kekayaan adalah milik mereka, maka merekapun kehilangan semua yang merek miliki.
Di dalam Al Qur'an, hukuman yang dikirmkan kepada kaum Saba dinamakan "Sail al-Arim" yang berarti "banjir Arim". Ungkapan yang digunakan dalam Al Qur'an juga menceritakan kepada kita bagaimana bencana ini terjadi. Kata "Arim" berarti bendungan atau rintangan. Ungkapan " Sail al-Arim" menggambarkan sebuah banjir yang datang bersamaan dengan runtuhnya bendungan ini. Seorang pengamat Islam telah menetapkan tentang waktu dan tempat kejadian ini dengan petunjuk yang digunakan dalam Al Qur'am tentang banjir Arim. Mawdudi menulis dalam komentaranya:
Dalam ungkapan sail al-Arim kata "Arim" diturunkan dari kata "airmen" digunakan dalam dialek Arabia selatan yang bearti "bendungan,rintangan" Dalam reruntuhan yang tersingkap dalam penggalian yang dilakukan di Yemen, kata ini tampaknya sering digunakan dalam pengertian ini. Sebagai contoh dalam prasasti Ebrehe (Abraha) yang dibuat oleh Habesh dari kerajaan Yaman , setelah dilakuakan restorasi terhadap dinding besar Ma'rib ditahun 542 dan 543 M, kata ini digunakan untuk pengertian bendungan waktu dan lagi. Sehingga ungkapan sail al-Arim berarti " sebuah bencana banjir yang terjadi setelah runtuhnya sebuah bendungan." " Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS Saba 16) . Setelah runtuhnya dinding bendungan , seluruh negeri digenangi oleh banjir . Saluran yang telah digali oleh kaum Saba dan juga dinding yang dibangun dengan mendirikan penghalang/perinrang antar gunung-gunung dihancurkan dan system pengairanpun hancur berantakan.Sebagi hasilnya, daerah yang semula berupa kebun yang subur berubah menjadi sebuah hutan. Tidak ada lagi buah yang tersisa kecuali buah seperti cheri dari tunggul pepohon kecil .4
Bawah (Reruntuhan bendungan Ma'rib yang tampak diatas adalah salah satu karya yang paling pentin dari kaum Saba. Bendungan ini runtuh dikarenakan banjir Arim yang disebutkan dalam Al Qur'an dan semua daerah pertaniannya dilanda banjir. Daerah itu dihancurkan dengan runtuhnya bendungan. Negeri Saba kehilangan kekuatan ekonominya dalam waktu yang sangat singkat dan dalam waktu yang tidak lama pula negeri ini dihancukan.
Bendungan Ma'rib yang telah mereka bangun dengan teknologi yang sangat maju, maka kaum Saba pun menjadi pemilik sistim pengairan yang luas dan maju. Tanah yang subur dan mereka usahakan dan penguasaan mereka atas jalur perdagangan memberikan mereka gaya hidup yang luar biasa dan yang mewah. Namun, mereka kemmudian "berpaling" dari Allah yang seharusnya mereka harus bersyukur atas semua kemurahan yang diberikan-Nya, Karenanya bendungan merekapun runtuh dan "banjir Arim" menghancurkan semua hasil pencapaian mereka.
Werner Keller seorang ahli arkeologi Kristen penulis buku " The Holy Book Was Right (Und die Bible Hat Doch Recht) sepakat bahwa banjir Arim terjadi sebagaima disebutkan dalam Al Qur'an dan ia menulis bahwa keberadaan sebuah bendungan dan penghancuran seluruh negeri dikarenakan runtuhnya bendungan membuktikan bahwa contoh yang diberikan dalam Al Qur'an tentang kaum pemilik kebun-kebun tersebut adalah benar-benar adanya .5
Setelah bencana banjir Arim, daerah tersebut muali berubah menjadi padang pasir dan kaum Saba kehilangan sumber pendapaan mereka yang paling penting dengan menghilangnya lahan pertanian mereka. Kaum yang tidak mengindahkan seruan Allah untuk beriman kepda-Nya dan bersyukur kepada-Nya, akhirnya diazab dengan sebuah bencana seperti ini. Setelah penghancuran yang disebabkan oleh banjir, kaum Saba mulai terpecah-belah. Kaum Saba mulai meninggalkan rumah-rumah mereka dan berpindah ke Arabia Selatan, Makkah dan Syria . 6
Dikarenakan banjir ini terjadi setelah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, peristiwa banjir Arim ini hanya disebutkan alam Al Qur'an.
Kota Ma'rib yang dulunya pernah dihuni oleh Kaum Saba, namun sekrang hanyalah sebuah reruntuhan yang terpencil, tidaklah diragukan lagi bahwa ini merupakan peringatan bagi mereka yang mengulang kesalahan seperti yang dilakukan kaum Saba. Kaum Saba bukanlah satu-satunya kaum yang dihancurkan dengan banjir. Dalam Al Qur'an surat Al Kahfi diceritkan tentang kisah dua orang pemilik kebun. Satu diantaranya memiliki kebun yang sangat mengesankan dan produktif seperti halnya yang dimiliki oleh kaum Saba. Namun merekapun membuat kesalahan yang sama sebagiamana halnya mereka, berpaling dari Allah. Ia berpikir bahwa anugerah yang dilimpahkan kepadanya "menjadi milik" dari diriya sendiri (dia sendirilah yang menyebabkan kesemuanya itu, bukan karena Allah):
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, kami jadikan bagi seorang diantara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun , dan Kami alirkan sungai dicelah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayan yang besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu'min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia; "Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.". Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim kepada dirinya sendiri; Ia berkata :" Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepda Tuhanku, pasti aku akan mendapat kembali tempat yang lebih baik daripada kebun-kebun itu". Kawannya (yang mu'min) berkata kepaanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: " Apakah kamu kafir kepada (Tuhan ) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?. Tetapi aku (percaya bahwa); Dialah Allah, Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu masya allah tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah ?. Jika kamu anggap aku lebih kurang daripada kamu dalam hal harta dan anak., maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripda kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebun-kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi". Dan harta kekayaanya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap biaya yang telah dibelanjakannya untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata : " Aduhai kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku". Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Disana pertolongan itu hanya dari Allah yang Hak . Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi Balasan. ( QS Al Kahfi 32-44).
Sebagaimana dapat dipahami dari ayat-ayat ini, kesalahan yang dilakukan oleh pemilik kebun adalah mengingkari keberadaan Allah. Meski ia mengingkari keberadan Allah namun sebaliknya ia mengira bahwa " meskipun jika dikembalikan kepada Tuhannya" ia akan mendapatkan balasan yang lebih baik. Ia yakin bahwa keadaan yang dialaminya, hanyalah tergantung dari kesuksesan usahanya sendiri.
Sebenarnya ini adalah berarti mempersekutukan Allah dengan orang/hal yang lain; mencoba untuk mengaku bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh Allah dan hilangnya rasa takut seseorang kepada Allah, berpikir bahwa seseorang memiliki keagungan atas diriya sendiri, dan Allah dengan caraNya "menunjukkan kemurahan" pada seseorang.
Hal inilah yang juga dilakukan oleh Kaum Saba, hukuman mereka adalah sama - semua daerah kekuasaannya dihancurkan- sehingga mereka dapat memahami bahwa mereka bukanlah orang uang menjadi "pemilik " kekuatan namun hanyalah "berkat" kepada mereka …..

Al Qur'an menceritakan kepada kita bahwa Ratu Saba dan kaumnya " menyembah matahari selain menyembah Allah' sebelum ia mengikuti Sulaiman. Informasi yang didapat dari prasasti membenarkan kenyataan ini dan menunjukkan bahwa mereka menyembah matahari dan rembulan dalam kuil-kuil mereka, salah satunya tampak seperti gambar diatas. Dalam pilar/tugu nampak prasasti yang ditulis dalam bahas Saba .

NOTES
1. "Seba" Islam Ansiklopedisi: Islam Alemi, Tarihi, Cografya, Etnografya ve Bibliyografya Lugati, (Encyclopedia of Islam: Islamic World, History, Geography, Ethnography, and Bibliography Dictionary) Vol.10, p. 268.
2. Hommel, Explorations in Bible Lands, Philadelphia: 1903, p.739.
3. "Marib", Islam Ansiklopedisi: Islam Alemi, Tarihi, Cografya, Etnografya ve Bibliyografya Lugati, Volume 7, p. 323-339.
4.Mawdudi, Tefhimul Kuran, Cilt 4, Istanbul: Insan Yayinlari, p.517.
5. Werner Keller, Und die Bibel hat doch recht (Tbe Bible as History; a Confirmation of the Book of Books), New York: William Morrow, 1956, p.207.
6. New Traveller’s Guide to Yemen, p.43.

cpas to http://www.bangsamusnah.com/peoplesaba.html

Ratu Balqis: Kisah Kepala Negara Super Power dalam Al-Qur’an


Abstrak
Kisah ratu Balqis dalam al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari penuturan tentang nabi Sulaiman. Penokohannya begitu kuat;  sebagai seorang penguasa negri Saba’ yang aman sentosa. Ia  adalah seorang ratu yang  adil dan bijaksana memimpin rakyatnya.  Ia begitu pintar dan tajam ldalam pemikiran,  ahli strategi yang ulung dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi rakyatnya ini terbukti ketika diminta untuk tunduk pada nabi Sulaiman.



Pendaluluan
            Di antara figur perempuan yang terdapat dalam al-Qur’an, ratu Balqis mungkin masih tetap tokoh yang paling sukar difahami.  Kemunculannya begitu kuat dan mengundang teka-teki, menolak setiap paradigmatisasi[2]. Sebagai penguasa kaum pagan—dalam hal ini pengembah mata hari, ia cakap bernegosiasi dengan nabi Sulaiman. Dan ketika ia mengakui kekuasaan nabi Sulaiman, ia kemudian tidak tunduk begitu saja tapi secara diplomatis menyatakan bersama Sulaiman tunduk kepada Allah.
Barbara Freyer Stowasser menyatakan bahwa dalam tafsir tradisionalis, kisah tentang ratu Balqis ini masih tetap membingungkan. Hal ini terkait belum diterimanya wacana perempuan sebagai kepala negara. Ditambah lagi pengisahan ratu Balqis ini dalam al-Qur’an lebih didominasi kisah supranatural nabi Sulaiman  dibanding mengungkapkan berbagai hal yang bermanfaat bagi tafsir ilmiah[3].
Kisah tentang ratu Balqis sebagai penguasa negeri Saba’ dalam al-Qur’an diceritakan dalam surat an-Naml yang berarti semut[4].  Dan  tentang negeri Saba’ diuraikan secara panjang lebar pada surat Saba’.

           
Ratu Balqis adalah Penguasa Negeri Saba
            Al-Qur’an memaparkan kisah seorang ratu yang memerintah kerjaan yang besar, yaitu ratu Balqis penguasa negeri Saba’[5]. Hal ini dijelaskan al-Quran dalam surat Saba’/34 : 15 berikut:
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan di sebelah kiri. Makanlah olehmu dari nezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya (negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun. QS Saba’/ :15.
           
            Dalam ayat di atas diceritakan tentang negeri Saba’ aman dan makmur (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur) di masa pemerintahan ratu Balqis. Kerajaan Saba’ berdiri pada abad VIII SM, pengaruh kekuasaannya mencakup Ethiopia dan salah satu negeri yang sangat terkenal ketika itu yaitu Ma’rib dengan bendungan yang sangat besar[6].
Pada ayat selanjutnya dikisahkan bahwa walaupun Allah telah melimpahkan begitu banyak anugerah-Nya kepada mereka, namun mereka tetap ingkar kepada-Nya. Lalu Allah mengirimkan banjir yang besar kepada mereka. Demikianlah balasan Allah atas kekufuran mereka. Firman Allah:
Lalu mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besardan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pepohonan) yang berbuah pait, pohon Atsal, dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi mereka balasan karena kekafiran mereka, dan kami tidak membalas melainkan kepada orang-orang yang sngat kafir. QS. Saba’/34 : 16-17.

 Menurut Ibnu ‘Asyur sebagaimana yang dikutip M Quraish Shihab bahwa terjadinya peristiwa banjir tersebut setelah masa ratu Balqis yang telah menganut ajaran agama yang diajarkan nabi Sulaiman. Sepeninggal ratunya yang adil itu, kaum Saba’ kembali menjadi kaum yang ingkar. Lalu Allah menghancurkan mereka melalui bencana banjir besar setelah runtuhnya bendungan Ma’rib[7].


Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud
Kisah tentang Ratu Balqis dalam al-Qur’an terkait dengan kisah kerasulan nabi Sulaiman AS putra  nabi Daud. Informasi tentang ratu Balqis yang berkuasa di negeri Saba’ ini diterima nabi Sulaiman[8] secara tidak diduga sebelumnya dari burung Hudhud. Burung Hudhud ini merupakan bagian dari bala tentara kerajaan nabi Sulaiman. Dikisahkan dalam suatu perjalanan nabi Sulaiman dengan bala tentaranya dan setibanya di tempat tujuan ia mengadakan inspeksi terhadap pasukannya. Ketika memeriksa barisan burung-burung, ia tidak mendapati burung Hudhud. Hal ini sebagaimana yang disitir dalam al-Qur’an:
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata,” Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir? Sesungguhnya aku benar-benar akan menyiksanya dengan siksa yang pedih atau aku benr-benar akan menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan bukti yang terang. QS an-Naml/27: 21

Dalam ayat di atas dinyatakan bahwa setelah memeriksa barisan bala tentaranya namun nabi Sulaiman tidak menemukan burung Hudhud. Lalu ia bertitah,” Sesungguhnya aku benar-benar akan menyiksanya dengan siksa yang pedih atau aku benar-benar akan menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan bukti yang terang”,yakni alasan yang jelas yang dapat diterima[9]. Lalu tak lama berselang datanglah si burung Hudhud. Ia membawa berita yang belum diketahui oleh nabi Sulaiman sebelumnya. Yaitu tentang negeri Saba’ yang diperintah oleh seorang wanita, yang konon bernama Balqis binti Syurahil. Sang ratu dianugerahi segala sesuatunya yang dapat menjadikan kekuasaannya langgeng, kuat dan besar. Misalnya tanah yang subur, penduduk yang taat, kekuatan bersenjata yang tangguh serta pemerintahan yang stabil. Serta ia mempunyai singgasana yang besar sebagai cerminan kehebatan kerajaannya[10], sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah:
Maka tidak lama kemudian lalu(burung Hudhud)berkata”Aku telah mengetahui sesuatu yang engkau belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari Saba’ suatu berita yang meyakinkan. Sesungguhnya aku menjumpai seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. QS an-Naml/27: 22-23

Lalu burung Hudhud melanjutkan ceritanya; setelah menjelaskan keunggulan kerajaan Saba’ tersebut secara material, ia kemudian menguraikan kelemahannya secara spritual. Bahwa sang ratu dan kaumnya beribadah dengan menyembah mata hari—menyembah selain Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam firman Allah selanjutnya:

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah: dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. Agar mereka tidak menyembah Allah. Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai arasy yang besar. QS an-Naml/27: 24-26


Surat Nabi Sulaiman untuk Ratu Balqis

Setelah mendengarkan laporan dari burung Hudhud tentang keyakinan yang batil dalam suatu masyarakat—yakni kerajaan Saba’yang merupakan sebuah kerajaan besar dan kuat, yang mereka berada tidak jauh dari pusat kekuasaan nabi Sulaiman di Palestina; nabi Sulaiman selaku nabi da rasul yang bijaksana, ia tidak terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan. Untuk mengklarifikasi berita yang dibawa oleh burung Hudhud[11] serta guna memperoleh informasi yang lebih mendalam tentang masyarakat tersebut lalu ia merintahkan burung  Hudhud  untuk membawa suratnya kepada mereka. Lalu mencari tau apa yang mereka diskusikan menyangkut isi surat itu. Sebagaimana firman Allah:
Berkata Sulaiman: ”Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” QS an-Naml/27: 27-28
Setelah burung Hudhud berangkat ke negeri Saba’ dengan membawa surat dari nabi Sulaiman. Ia menjatuhkan surat itu kepada sang ratu yang kemudian langsung membuka dan membacanya. Lalu ratu Balqis pengumpulkan para pejabat teras dan para penasehatnya untuk bermusyawarah. Bahwa ia telah menerima surat dari Sulaiman yang mengajak mereka berserah diri, memeluk agama tauhid. Sebagaimana diceritakan pada ayat selanjutnya:
Berkata Balqis: “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuat surah yang mulia. Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. QS an-Naml/27: 29-31

Selanjutnya ratu Balqis berdiskusi dan jajarannya bagaimana menanngapi surat tersebut.

Berkata Balqis: “Hai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam urusan ini aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku).” Mereka menjawab: ”Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga keberanian yang sangat dalam peperangan, dan keputusan berada ditanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang kamu perintahkan.” Dia berkata:” Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan ini.” QS an-Naml/32-35


Ini menunjukkan betapa besar usaha ratu Balqis untuk mengungkapkan apa yang belum ia ketahui tentang nabi Sulaiman sehingga ia mengadakan musyawarah dengan para petinggi kerajaannya untuk meminta pendapat dan pandangan mereka. Mereka mengatakan  kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga keberanian yang sangat dalam peperangan, dan keputusan berada ditanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang kamu perintahkan. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya serta mengingat kehancuran dan penderitaan rakyatnya yang akan terjadi akibat peperangan karena raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat, maka ratu Balqis terlebih dahulu mencoba jalan damai. Yaitu dengan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan ini. Balqis menguji terlebih dahulu tentang kebenaran Sulaiman. Apabila Sulaiman seorang nabi tentulah ia akan menolak hadiah tersebut namun sebaliknya jika ia mengambilnya tentulah ia bukan seorang nabi[12]. Dengan demikian untuk mengulur waktu melihat tanggapan dari Sulaiman dan memikirkan lebih lanjut tentang langkah yang akan diambil, antara berperang atau damai.
Firasat ratu Balqis tentang kenabian Sulaiman begitu kuat, karena Sulaiman menolak hadiahhadiah yang dibawakan oleh utusannya. Penolakan nabi Sulaiman tersebut diceritakan Allah dalam ayat selanjutnya:
Maka tatkala utusan-utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata:” Apakah patut kamu menolong aku dengan harta?, maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik dari pada apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri Saba’ dengan terhina dan mereka menjadi tawanan-tawanan yang hina dina.” QS an-Naml/36-37

Nabi Sulaiman menyurati mereka untuk datang dan berserah diri kepadanya bukanlah karena harta sehingga iapun menolaknya. Tapi karena semua itu karena ketaatan kepada Allah. Dapat dikatakan di sini bahwa hadiah tersebut merupakan sogokan yang bertujuan menghalangi Sulaiman dalam melaksanakan kewajibannya. Apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik dari pada apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
Selanjutnya nabi Sulaiman memerintahkan kepada pimpinan rombongan kerajaan Saba’ bahwa kembalilah kepada mereka  yakni ratu dan mereka yang taat kepadanya. Sungguh kami bersumpah bahwa sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri Saba’ dengan terhina dan mereka menjadi tawanan-tawanan yang hina dina menjadi tawanan-tawanan perang. Ini tentu saja bila mereka tidak datang dan patuh pada kami[13].


Ratu Balqis Tunduk pada Agama Tauhid yang Dibawa Nabi Sulaiman
Al-Qur’an tidak menjelaskan apa yang terjadi setelah penolakan hadiah ratu Balqis tersebut. Namun dapat diasumsikan bahwa utusan kerajaan Saba’ tersebut menyampaikan hasil pertemuannya dengan Sulaiman kepada sang ratu. Sebagian riwayat menyatakan bahwa menyadari bahaya yang akan mengancam kelangsungan kerajaannya, maka ratu Balqis menyurati Sulaiman bahwa ia akan mendatangi kerajaan Sulaiman. Cerita selanjutnya bahwa nabi Sulaiman memerintahkan agar singgasana ratu Balqis diangkut ke kerajaannya di Palestina sebelum rombongan mereka sampai.
Berkata Sulaiman:” Hai pembesar-pembesar, siapakah diantara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin:” Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepada sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membacanya lagi dapat dipercaya.”Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab:” Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” QS an-Naml/38-40

Perintah nabi Sulaiman ini disanggupi oleh Ifrit[14] bahwa ia  akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepada sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu;untuk pulang beristirahat. Konon nabi Sulaiman itu berkantor dari pagi hingga siang hari. Jika demikian berarti Ifrit akan mengangkut singgasana itu membutuhkan waktu setengah hari.
            Titah ini juga mendapat tanggapan dari seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab:” Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”maka dengan serta merta kemudian singgasana ratu Balqis itu telah berada di hadapan nabi Sulaiman.  Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia. Para ulama berbeda pendapat tentang tokoh seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab tersebut. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah Ashif ibn Barkhiya yang merupakan seorang ulama bani Israil yang juga adalah salah seorang jajaran mentri nabi Sulaiman. Ada lagi yang menyatakan bahwa ia adalah nabi Khidir atau bahkan malaikat Jibril.[15] Namun dalam ayat di atas di jelaskan bahwa kemampuannya yang luar biasa tersebut berdasarkan ilmu dan hikmah yang diperolehnya bersumber dari  Kitab Allah.
Sementara ulama berpendapat bahwa permintaan nabi Sulaiman itu bertujuan untuk menunjukkan kepada ratu Balqis betapa besar kekuasaan dan anugerah Allah  yang telah dikaruniakan-Nya kepada nabi Sulaiman agar mereka dapat sadar akan kelemahan serta ketidakberdayaannya lalu tunduk menyembah Allah.
Tatkala singgasana tersebut telah berada di hadapan nabi Sulaiman, lalu ia memerintahkan untuk memberikan sedikit “sentuhan” untuk membuat perubahan pada singgasana tersebut.

Dia berkata:”Ubahlah baginya singgasana, maka kita akan melihat apakah dia mengenalnya ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya.”Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupakah ini dengan singgasanamu? Dia menjawab,”Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya untuk melahirkan ke-Islamannya, karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana!,”maka tatkala dia melihat lantai istana tersebut, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapnya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin yang terbuat dari kaca. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan sekalian alam.” QS an-Naml/41-44

Perubahan yang mengesankan sedikit perbedaan dengan singgasana sang ratu. Tujuannya agar lebih lanjut kita akan melihat apakah dia mengenalnya bahwa singgasana tersebut adalah singgasanya yang telah diubah ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya.sehingga dapat diketahui tentang kejelian dan ketelitian ratu Balqis.
Ketika ratu Balqis sampai di istana nabi Sulaiman, Serupakah ini dengan singgasanamu? Pertanyaan itu dijawab dengan sangat taktis, Dia menjawab,”Seakan-akan singgasana ini singgasanaku. Suatu jawaban yang menunjukkan ketelitiannya juga kekuatan mentalnya. Jawaban yang tepat pada situasi seperti yang dialaminya.[16]
Mencermati keberadaan “singgasana”nya dan pertanyaan nabi Sulaiman yang diajukan kepadanya menyadarkannya tentang bukti berita/ pengetahuan  tentang kehebatan nabi Sulaiman yang telah mereka dengar sebelumnya. Dan hal itu kini telah terbukti dan mereka saksikan sendiri. Selanjutnya Balqis mengatakan kami adalah orang-orang yang berserah diri. Dengan pengertianbahwa ia dan pengikutnya berserah diri masuk ke dalam agama tauhid yang dibawa oleh nabi Sulaiman dan meninggalkan kepercayaan mereka sebelumnya yang sesat.
Bahwa kepercayaan yang mereka anut selama ini dengan menyembah mata hari,  Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya untuk melahirkan ke-Islamannya, karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.
Inilah bahagian akhir kisah tentang ratu Balqis dalam al-Qur’an, dia lalu dipersilakan untuk memasuki istana nabi Sulaiman. Setelah ujian yang pertama terkait dengan singgasananya yang telah dipindahkan ke istana nabi Sulaiman dilaluinya dengan sukses, maka tibalah ujian berikutnya terkait lantai kaca istana nabi Sulaiman. Maka tatkala dia melihat lantai istana tersebut, yang terbuat dari kaca yang bening. Dan konon di bawahnya mengalir air yang di dalamnya terdapat semisal aquarium yang di huni oleh ikan-ikan.  Dikiranya kolam air yang besar dan disingkapnya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin yang terbuat dari kaca.  Menyaksikan kemuliaan, keagungan serta karunia Allah yang dilimpahkan kepada nabi Sulaiman, maka  berkatalah Bilqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan sekalian alam.Ini adalah jawaban yang cerdas dan cemerlang pemikirannya. Di saat ia harus mengaku kekuatan dan kekuasaan lawannya, ia tidak langsung mengakui kebesaran lawannya tetapi ia merangkulnya dan menundukkan diri kepada Zat yang lebih tinggi dari pada Sulaiman yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.[17]
Adapun mengenai kelanjutan hubungan antara nabi sulaiman dan ratu Balqis. Sebagian mufassir menyatakan bahwa hubungan cinta antara keduanya berakhir dengan perkawinan. Mereka menikah dan menjadi sepasang suami istri Walaupn menurut M. Quraish Shihab pembahasan tersebut sebaiknya disingkirkan dari pembahasan tafsir[18].


Ratu Balqis: Potret Lambang KemandirianPerempuan di Bidang Politik
    Demikianlah al-Qur’an berceria tentang kepemimpinan seorang perempuan dengan memberikan contoh kepemimpinan ratu Balqis; penguasa negeri Saba’. Kisah ini menggambarkan tentang perempuan yang mempunyai kecemerlangan pemikiran, ketajaman pandangan, kebijaksanaan dalam mengambil suatu keputusan, dan seorang politikus ulung. Waktu ia menerima surat dari nabi Sulaiman, ia musyawarahkan dengan para pembesar kerajaannya.  Walaupun merasa kuat  dan siap untuk berperang dengan Sulaiman, namun ia mempuyai sebuah pandangan yang jauh ke depan. Ia tak ingin kerajaannnya hancur dan rakyatnya menderita akibat peperangan. Karena ia punya intuisi kalau Sulaiaman adalah nabi. Melawan seorang nabi, adalah perbuatan yang sia-sia. Seorang  nabi adalah utusan Allah yang tak mungkin dapat dikalahkan karena ia dapat pertolongan dari-Nya. Dan tidaklah bijaksana menghalangi rakyatnya untuk menikmati kebenaran dengan berperang melawannya untuk mempertahankan kebatilan[19].
            Profil ratu Balqis sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana sebagimana yang diceritakan dalam al-Qur’an di atas kemudian dijadikan patron/ kriteria perempuan yang ideal dalam Islam.  Kaum perempuan di masa Rasulullah digambarkan sebagai perempuan yang aktif, sopan dan terpelihara akhlaknya. Bahkan dalam al-Qur’an figur ideal seorang muslimah disimbolkan sebagai pribadi yang memiliki kemandirian politik   (al-istiqlal as-siyasah) (QS. Al-Mumtahanah/60:12), seperti figur Ratu Balqis yang memimpin kerajaan super power (‘arsyun ‘azhim) (QS. an-Naml/ 27:23); memiliki kemandirian ekonomi (al-istiqlal al-iqtishadi) (QS. an-Nahl/16:97), seperti figur perempuan pengelola peternakan dalam kisah Nabi Musa dengan putru nabi Syu’aib di Madyan (QS. al-Qashash/28:23), kemandirian di dalam menentukan pilihan pribadi     (al-istiqlal asy-syakhshi) yang diyakini kebenarannya, sekalipun berhadapan dengan suami bagi wanita yang sudah kawin, (QS. at-Tahrim/66:11) atau menentang pendapat orang banyak bagi perempuan yang belum kawin (QS. at-Tahrim/66:12), al-Qur’an mengizinkan kaum perempuan untuk melakukan gerakan “oposisi” terhadap berbagai kebobrokan, dan menyampaikan kebenaran (QS. at-Taubah/9:71)[20].
Tidaklah mengherankan jika pada masa Nabi ditemukan sejumlah perempuan memiliki kemampuan intelektual dan prestasi sosial yang cemerlang seperti yang diraih kaum laki-laki, seperti para istri Rasul. Dalam jaminan al qur’an, perempuan dengan leluasa memasuki semua sektor kehidupan masyarakat, termasuk politik, ekonomi dan berbagai sektor publik lainnya.    
Pembicaraan al-Qur’an tentang ratu Balqis  juga dijadikan  para ulama yang mendukung kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan untuk menjustifikasi pendapat mereka bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama menjadi kepala negara. Tentu saja selama mereka memenuhi kriteria-kriteria yang telah digariskan.


Penutup
Demikianlah kisah seorang ratu yang memiliki kekuasaan, namun kekuasaannya tidak menghalangi ia tunduk dan patuh kepada kebenaran[21]. Mudah-mudah menjadi mau’izhah hasanah bagi kita semua. Wa Allahu a’lamu bi ash-shawab












Daftar Pustaka

Barbara Freyer Stowasser, Reinterpretasi Gender: Wanita dalam al-Qur’an, Hadis dan Tafsir, (terj), Bandung: Putaka Hidayah, 2001, Cet.ke-1

Chatibul Umam, et. Al, Kajian Ayat- Ayat Al-Qur’an Tentang Wanita, Jakarta: P2M IAIN Syarif Hidayatullah, 1996

Huzaemah T Yanggo, Fiqih Perempuan Kontemporer, Jakarta: al-Mawardi Prima, 2001, Cet. Ke-1
Lies M Marcoes Natsir dan Johan Hendrik Meuleman (ed), Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual, Jakarta: INIS, 2003

M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume 10, Jakarta: Lentera hati, 2004, Cet.ke-2

------------, Tafsir al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume 11, Jakarta: Lentera hati, 2004, Cet.ke-2

Siti Musdah Mulia (ed),  Keadilan dan Kestaraan Gender Perspektif Islam, jakarta: Lembaga kajian Agama dan Jender,  2003, Cet. Ke-2

------------, Islam & Inspirasi Kesetaraan Gender, Yogyakarta: Kibar Press, 2007, Cet.ke-2




[1] Jayusman, Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung,  http: //jayusmanfalak.blogspot.com  dan  email: jay_falak@yahoo.co.id
[2] Barbara Freyer Stowasser, Reinterpretasi Gender: Wanita dalam al-Qur’an, Hadis dan Tafsir, (terj), Bandung: Putaka Hidayah, 2001, Cet.ke-1, h. 153
[3] Ibid, h. 153-154
[4] Dalam surat an-Maml dikisahkan tentang semut yang takut melihat kehadiran Sulaiman dan bala tentaranya di lembah mereka. “Wahai semut-semut masuklah ke dalam sarang sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka Sulaiman tersenyum mendengar perkataan semut. Dan ia berdoa,”Wahai Tuhanku berlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahlan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal solehyang Engkau ridoi. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh” QS an-naml/27: 18-19
[5] Ibnu Katsir dalam Tasirnya sebagaimana di kutip Barbara Freyer Stowasser menyatakan ia anak seorang wazir kerajaan Himyariyah yang ada di Ma’rib Yaman. Ayahnya bernama Dzu Syarakh (sebagian yang menyebutnya Syurahil--penulis) ibn Hudad dan ibunya bernama Umairah , anak seorang raja Jin. Lih. Barbara, Op.cit, h.158 Dan kata Saba’ dapat berarti wilyah atau negeri sebagai yang ditunjuk oleh al-Qur’an dalam surat an-Naml dan dapat juga berarti kaum sebagaimana yang dimaksud dalam ayat dalam surat Saba’ berikut ini. M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume 11, Jakarta: Lentera hati, 2004, Cet.ke-2, h. 362
[6] Lih Ibid, h. 364
[7] Ibid
[8] Nabi Sulaiman adalah seorang Raja bani Israil yang pusat kekuasaannya di Palestina. Nabi Sulaiman mewarisi kekuasaan atas Bani Israil dari ayahnya nabi Daud. Ia dikrunia oleh Allah mukjizat dapat berkomunikasi dengan burung. binatang dan serangga. Adapun bala tentara kerajaannya terdiri dari manusia, jin dan burung Lebih lanjut lih al-Qur’an surat an-Naml/27 ayat 15-19.
[9] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume 10, Jakarta: Lentera hati, 2004, Cet.ke-2,  h. 209
[10] Ibid, h. 211-212
[11] Itulah sekelumit tentang kisah burung Hudhud dalam al-Qur’an. Burung Hudhud adalah sejenis merpati yang dapat dilatih untuk membawa surat atau barang-barang ringan dengan  cara  menjepatnya dengan paruh (untuk jarak tempuh yang tidak terlalu jauh) atau  mengikatkan pada kaki atau bagian tubuhnya. Sayyid Quthub menguraikan tentang perihal burung Hudhud sebagaimana yang dikutip oleh M.Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah; Hudhud merupakan salah satu anggota bala tentara abi Sulaiman. Ia memiliki kemampuan dan keistimewaan yang melebihi jenis burung yang lain. Ini terlihat dengan jelas dalam kisah di atas bahwa ia dapat mengetahui situasi kerajaan Saba’, serta keadaan masyarakatnya, pengetahuan yang hanya dapat dijangkau oleh manusia yang berakal, suci dan bertakwa. Hudhud terbut merupakan suatu karunia dan mukjizat dari Allah. Begitu istimewanya burung Hudhud ini sehingga nabi Sulaiman ketika  menginspeksi pasukannnya yang sangat besar, dengan begitu jeli tidak menemukan keberadaannnya. Tentu saja si burung Hudhud ini merupakan sosok yang penting dalam bala tentara tersebut. Ini dibuktikan laporannya yang begitu pintar tentang negeri Saba’ yang ia jumpai. Ibid, 214—215 dan 217-218
[12]Huzaemah T Yanggo, Fiqih Perempuan Kontemporer, Jakarta: al-Mawardi Prima, 2001, Cet. Ke-1,h.  80
[13] Quraish, Vol 10, Op.cit, h. 222
[14]Ifrit adalah yang kuat dan cerdik dari bangsa Jin. Kata Ifrit menurut Quraish Shihab berati yang sangat kuat lagi gangat cerdas dan tidak dapat dicederai, juga tidak dapat dikalahkan. Jika digunakan untuk manusia berati mempersamakannya engan makhluk halus tersebut. Ibid, h. 224
[15]Ibid, h. 226
[16]Ibid, h. 228-229
[17] Lih Huzaemah, Op.cit, h. 83
[18] Quraish, Vol 10, h. 232 dan Barbara , Op.cit, h.17-158
[19] Ibid, h. 83-84 dan lih juga Chatibul Umam, et. Al, Kajian Ayat- Ayat Al-Qur’an Tentang Wanita, Jakarta: P2M IAIN Syarif Hidayatullah, 1996, h. 73-74
[20] Siti Musdah Mulia (ed),  Keadilan dan Kestaraan Gender Perspektif Islam, jakarta: Lembaga kajian Agama dan Jender,  2003, Cet. Ke-2, h. Xiii dan lihat juga Stiti Musdah Mulia, Islam & Inspirasi Kesetaraan Gender, Yogyakarta: Kibar Press, 2007, Cet.ke-2, h. 17-18
[21] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume 10, Jakarta: Lentera hati, 2004, Cet.ke-2, 232
  
............copas to http://laboratoriumstudial-quran.blogspot.com/2012/03/ratu-balqis